-->
Purnomo Wahyudi

Jangan Uraikan Lagi Ramadhan Yang Telah Engkau Rajut

Jangan Uraikan Lagi Ramadhan Yang Telah Engkau Rajut
Sudah sampai mana tadarus kita ? Apakah telah bertemu Surat An-Nahl? Ternyata, dalam ayat 92 dari surat tersebut ada sebuah cerita tentang seorang perempuan di Mekkah yang pekerjaannya memintal benang.

Perempuan ini sedikit mengalami gangguan kejiwaan di masa lalu, sehingga perilakunya tidak masuk akal. Hasil rajutan yang ia pintal sepanjang siang akan dirombaknya kembali ketika malam. Begitulah setiap harinya. 

Padahal pekerjaan seorang perajin tenun itu bukan hal mudah. Sungguh butuh kesabaran sehingga ia mencapai hasil sejauh itu. Tinggal sedikit lagi ia menikmati rajutannya, tetapi justru ia menguraikan lagi.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.”

Ayat ini turun berhubungan dengan iklim politik saat itu. Bahwa sekelompok orang pekerjaannya membela kaum yang kuat, bukan yang benar. Sehingga ketika muncul kaum yang lebih kuat lagi, kelompok ini meninggalkan dukungan sebelumnya dan berganti haluan. Kutu loncat politik! 

Maka Allah menurunkan ayat ini agar kaum muslimin jangan meniru perbuatan mereka. Seorang muslim sejati hanya membela yang benar, bukan membela yang berkuasa. Begitulah asbabun nuzul ayat tersebut. 

Tetapi secara umum, ayat ini juga menggambarkan perbuatan orang yang sia-sia. Ayat ini teguran bagi orang yang sudah bersusah payah mencapai sesuatu, tetapi kemudian dirombaknya kembali pencapaian itu.

Misalnya perjuangan di bulan Ramadhan. Sungguh butuh kesabaran kita menghidupkan sepuluh hari pertama dan kedua sampai sejauh ini. Tinggal saatnya kita menikmati hasil tetapi kita justru meninggalkannya. 

Bukankah sepuluh hari ketiga dari Ramadhan adalah puncak dari anugerah Allah? Kenapa tidak dinikmati? 

Maka tidak salah kiranya, orang yang mengawali Ramadhan dengan penuh kesungguhan kemudian mengakhirinya dengan penuh kemalasan, laksana perempuan yang memintal benang kemudian diceraiberaikan kembali. 

Semoga Allah senantiasa menjaga semangat kita sehingga dapat menutup Ramadhan ini dengan akhir yang paling indah. Amiin
Purnomo Wahyudi
Load comments