-->
Purnomo Wahyudi

Di atas Ikhlas Masih Ada Ikhlas

Di atas Ikhlas Masih Ada Ikhlas
"Saya punya keinginan untuk belajar lagi tentang ilmu ikhlas. Kalau saudara tahu guru yang alim, yang ikhlas, kasih tahu saya!"

Begitulah ucapan sahabat lama sekira duabelas tahun silam. Beliau tidak lagi muda, bahkan sudah memiliki beberapa orang cucu. Beliau juga bukan orang awam seperti saya, justru ilmunya dalam sekali. 

Saya kira ucapan tersebut hanya bentuk tawadhu saja. Saya sendiri belajar banyak tentang keikhlasan dari Beliau. Salah satu nasihatnya adalah bertanya kepada diri sendiri setiap kita keluar rumah. 

Apa tujuan kita keluar rumah sekarang ini? Apakah semata karena Allah? Atau mengharap sesuatu dari mahluk? Maklum saja, meskipun seorang dosen yang tugasnya mengajar ada saja godaannya. 

Seandainya terbersit sesuatu niat bukan karena Allah, maka pulanglah kembali ke rumah dan batalkan saja acara tersebut. Begitulah pesannya. Berat. Ilmu kelas tinggi.

Apalagi kalau dipraktekkan saat menulis. Apa tujuan saya menulis? Mendapat like, meningkatkan jumlah member, popularitas, atau mengumpulkan calon pembeli? Ya Allah, satu pertanyaan ini saja sudah menguliti niat-niat saya. 

Begitulah salah satu nasihatnya. Cukup untuk menjadi parameter kita betapa dalamnya keilmuan Beliau. 

Sungguh saya terkejut sekali, beberapa hari belakang, sahabat saya tersebut bercerita bahwa ia akhirnya menemukan seseorang yang alim, dan sekarang sedang belajar kepadanya. 

Ternyata ucapannya duabelas tahun silam itu memang sungguh-sungguh! Siapakah orang alim yang dimaksud tersebut? Apakah mudah kita bertemu ulama terkenal seperti demikian? 

Ternyata, orang alim yang ditemui sahabat saya bukan orang ternama. Ia hanya pensiunan sebuah perusahaan di bidang migas. Tetangganya pun mengenalnya sebagai orang biasa. Sungguh tersembunyi sekali keberadaannya. 

Memang permata yang mahal biasanya justru disimpan baik-baik oleh pemiliknya, bukankah demikian? 

Demikianlah keadaan orang-orang mukhlis. Mereka tidak suka menampakkan diri, dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Mereka tidak sibuk dengan penilaian manusia, melainkan hanya Allah saja tujuan hakiki. 

Semoga kita semua diberikan anugerah untuk dapat mencium walaupun sedikit saja harumnya sifat ikhlas. Amiin. 
Purnomo Wahyudi
Load comments