-->
Purnomo Wahyudi

Ikhlas Menerima Penilaian

Ikhlas Menerima Penilaian
Kita harus senantiasa ikhlas menerima penilaian orang lain. Hal-hal yang perlu kita ingat, agar dapat dengan ikhlas dan lapang dada dalam menerima penilaian orang lain, Pertama, harus kita ingat bahwa kita tidak selalu dapat mengontrol orang lain. Dengan kata lain, orang lain tidak selalu dapat melakukan seperti yang kita inginkan. Jadi, izinkan orang lain melakukan apa yang ingin dilakukannya, izinkan mereka menilai kita sebagaimana mereka ingin menilai. 


Kedua, fahamilah bahwa sebenarnya penilaian orang lain tidak akan pernah menyakiti kita. Tetapi yang akan menyakiti perasaan kita adalah penolakan kita terhadap penilaian orang lain. Jadi, kita tidak perlu memberontak terhadap penilaian orang lain. Biarkan mereka menilai semaunya, dan rasakan  bahwa jiwa kita akan damai karena tak enggan untuk dinilai, sekalipun penilaian itu adalah penilaian yang sangat buruk. 

Ketiga, menerima penilaian orang lain tidak berarti mengakui kebenarannya. Lidah tak bertulang, orang bisa mengucapkan apa saja semaunya. Apapun posisi orang itu, penilaiannya terhadap kita belum tentu benar. Butuh pengetahuan dan kebijaksanaan untuk seseorang dapat menilai diri kita dengan benar. Karena itu, harus kita ingat baik-baik, bahwa jika orang yang menilai kita itu bijaksana, maka dia akan menilai kita dengan cara yang menyenangkan atau penilaiannya akan membantu kita untuk menjadi lebih baik. Jika tidak demikian, berarti orang yang menilai tersebut tak lebih dari pada orang dungu. Dan kita jangan ikut-ikutan dungu dengan cara merisaukan penilainnya. Bila kita risau dengan penilaian orang tersebut, berarti kita merisaukan penilaian orang dungu. Itu berarti kita sama dungunya dengan mereka.

Keempat, Di sisi lain, penilaian yang benar pun bisa menyakitkan kita, namun itu berguna bagi kita untuk memperbaiki diri. Walaupun kita mengingkari penilaian tersebut, karena malu misalnya, namun hati kita selalu jujur. jika penilaian itu benar, maka hati kita pasti mengetahuinya. Karena itu, penilaian yang benar itu terimalah secara lahir dan batin, walaupun sakit, tapi harus kita kenang-kenang manfaatnya sebagai jalan menuju hidup yang lebih baik. Kritikan dan penilaian orang lain tersebut, harus kita persepsikan sebagai cara dia mewujudkan kasih sayang dan dan perhatiannya terhadap kita. 

Penilaian orang lain itu bisa benar, bisa pula salah, bisa jadi pandangannya baik ataupun buruk, menyenangkan hati atau menyakitkan. Semua itu tak masalah selama kita mensikapi semua bentuk penilaian itu dengan benar, sehingga kita dapat ikhlas menerima apapun penilaian orang lain terhadap kita. Ikhlas , sabar serta menerima penilaian orang lain, tidak berarti diam dengan bodoh. Kita memiliki emosi yang harus dimanfaatkan. Tetapi kemana emosi itu mengarah, bila mendorong kepada hal positif, maka ikuti jalannya. Ikhlas berarti membiarkan apa yang telah terjadi untuk berlalu, membiarkan segala sesuatu bergulir mengikuti jalannya. Sabar berarti semangat dalam mengerjakan kebaikan dengan  pantang menyerah. dan menerima penilaian orang lain, tiadanya kemelekatan terhadap konsep dari nilai tersebut. 

Bila orang lain menilai bahwa kita salah, dan kita memang menyadari kesalahannya, tidak selalu perlu kita mengatakan "ya saya salah, ya saya ceroboh, ya saya jelek, memang saya buruk, memang saya keliru". Bukannya tidak boleh atau terlarang, bahkan sesekali memang kita perlu mengakui kesalahan kita, namun jangan terlalu banyak mengatakan hal yang buruk-buruk orang lain dan diri sendiri, karena itu akan berdampak buruk pada diri kita sendiri maupun pada hubungan kita dengan orang lain. Kita harus lebih banyak fokus pada apa yang salah, bukan siapa yang salah. Misalnya, ada teman mengambil barang tanpa permisi. jelas dia salah. Tapi kita tidak perlu perlu tunjuk hidungnya lalu dikatai "kamu salah", melainkan dapat kita katakan, "mengambil barang orang lain tanpa permisi adalah tindakan yang salah". biarkan dia menyimpulkan sendiri bahwa "saya salah". Secara logika, itu sih saja. Akan tetapi secara retorika, itu berbeda. 

Perhatikan bahwa di sekeliling kita ada orang yang senang sekali mencari-cari kesalahan kita, lalu suka memaksa kita mengakui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Kita memang memiliki banyak kesalahan, tapi mengapa orang harus memuaskan diri dengan pengakuan kita atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. dan bahkan ada orang yang terlihat sangat kesakitan bila kita belum mengatakan "ya.. saya salah". Setelah itu baru dia terlihat lega. Kita jangan meniru perangai seperti itu.  Dan bila kita harus mengatakan "ya saya salah " katakan saja dengan rasa belas kasihan, agar orang yang menilai tidak terlalu merasa sakit karena penilaiannya belum kita iyakan. 

Kullu bani Adam, khotoun. Setiap anak Adam itu pasti bersalah. Di sini , tidak ada manusia yang sempurna. Pasti semua orang melakukan kesalahan. Ada berbagai jenis kesalahan, mulai dari jenis kesalahan kecil, hingga kesalahan besar. Kesalahan yang tidak termasuk kejahatan dan yang termasuk pada kejahatan. Bila ada yang melakukan kesalahan, tentu ada pelaku kesalahannya.  Tetapi itu tidak berarti kita harus mencari dan menunjuk siapa pelaku dari setiap kesalahan yang terjadi, terutama apabila sudah mencari siapa yang salah diantara kita "saya" atau "kamu", maka berdampak pada sekat-sekat yang semakin kuat memisahkan antara kita. Jadi, alangkah indahnya bila dalam suatu komunitas yang dicari adalah "kesalahan kita", lalu "kita perbaiki bersama", bukan kesalahan "kamu", lalu "aku menendang kamu".

Apabila kita memiliki beberapa teman yang masih suka mencari-cari kesalahan kita, maka mulailah dari diri kita untuk memberinya contoh dengan sikap dan perangai yang tak lagi gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Ingatlah firman Allah, "yaa ayyuhaladziina aamanuu ijtanibuu katsiran, inna ba`dha dhanni ism. wala tajasasuu..." (hari orang beriman, jauhilah prasangka. sesungguhnya kebanyakan prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari kesalahan orang...". Dengan kata lain, bila kita rasa teman-teman kita tidak bijak dalam menilai kita, maka tidak perlu menunggu mereka menjadi bijaksa apalagi memaksa mereka untuk bijak, tapi mulailah kebijaksanaan itu dari kita sendiri.
Purnomo Wahyudi
Load comments