-->
Purnomo Wahyudi

Emosi

Emosi
Apakah emosi itu ? Emosi adalah reaksi mental atas suatu fenomena didasari oleh kehendak yang kuat sehingga menimbulkan sensasi yang kuat pula pada tubuh disertai dengan perasaan menyenangkan atau tak menyenangkan. Perasaaan yang muncul tersebut muncul, berkembang dan kemudian berlalu lebih cepat dari suasana hati. 

Sebagai contoh, ketika seseoarng merasa marah dengan emosi yang kuat, dia bersikap kasar, berteriak-teriak dengan keras, serta membentak-bentak. Tapi emosi tersebut tidak dapat berlangsung lama. Setelah lima atau sepuluh menit kemudian, emosinya mereda. Walaupun demikian, suasana hatinya masih marah. Bahkan setelah setelah berbulan-bulan, masih saja menyimpan dendam.  Suasana hati yang marah dia pertahankan dalam jangka waktu lama, dengan terus menerus mengingati peristiwa yang pernah membuatnya marah. Itu yang disebut menyimpan dendam. Ini ilustrasi yang menunjukan bahwa emosi telah berlalu, tapi suasana hati belum juga berlalu. Setiap kali hatinya merasa marah, dia juga merasa tidak senang. Dengan demikian terdapat entitas-entitas yang berbeda, yang dapat dibedakan dari apa yang disebut emosi, yaitu mental, perasaan dan suasana hati. 

Dari sudut pandang Krachtology, emosi adalah bahan energi kracht. Dia tidak hanya sesuatu yang bersifat mental, melainkan juga sesuatu yang bersifat fisik. Artinya, ketika seseorang emosi, maka tubuh seseorang mengeluarkan semacam uap yang bereaksi secara kimiawi terhadap zat-zat yang terdapat di dalam tubuh dan darah. Para Krachtolog mengetahui rahasia ini dan memanfaatkan emosi dengan menciptakan sebuah sistem gerak yang dapat mengubah setiap emosi menjadi energi kracht. 

Emosi menusia dikendalikan oleh sistem limbik yang terdapat di dalam tempurung kepala bagian belakang. Karena itu ketika seseorang emosi dengan suatu emosi yang negatif, maka sebelum anggota tubuh lain bereaksi, bagian otot yang pertama kali bereaksi adalah otot-otot pada bagian kepala belakang, pundak, bahu dan punggung. Reaksi tersebut menyebabkan otot-otot menjadi tegang dan menimbulkan kondisi syaraf-syaraf tubuh menjadi tidak harmoni. Sebaliknya, emosi yang positif membuat bagian-bagian otot tadi menjadi rileks. Proses menegang dan mengendurnya otot sebagai pengaruh emosi, itu tidak lepas dari pengaruh pergerakan bio energi  dan reaksi kimiawi dalam tubuh. 

Karena reaksi emosi itu berpangkal pada sistem limbik yang pda tahap pertama sangat mempengaruhi kondisi otot-otot pundak dan punggung atas, maka sistem gerak yang diciptakan oleh para Krachtolog untuk memanfaatkan emosi ini adalah dengan melakukan gerakan bahu. Kracht itu sendiri secara bahasa mengandung arti "bahu". Dengan melakukan gerakan bahu secara berulang-ulang, akan membutuk syafat-syafat tubuh menjadi harmoni. Setelah cukup terlatih, maka ketika seorang krachtolog mengalami emosi, emosi tersebut tidak lagi menimbulkan ketegangan pada otot-otot, juga tidak menimbulkan kondisi syaraf-syaraf yang tidak harmoni, karena pergerakan bio energi terkendali, terpusat menujuk simpul energi yang terletak dua jari di bawah pusar. 

Saya coba mengilustrasikan bahwa ketika seseorang emosi, sistem limbik di pangkal otak bereaksi. Reaksi ini diikuti oleh reaksi kimiawi pada otak yang menimbulkan semacam uap yang disebut dengan Kract. Kracht ini kemudian bergerak seperti awan tertiup angin, mengikuti saluran-saluran energi untuk mencapai pusat energi di bawa pusar. Namun, ketika saluran-saluran energi terhambat, maka terjadilah ketegangan syaraf-syaraf tubuh, dan itu bersifat destruktif, merusak, serta akan dirasakan sebagai sensasi yang tidak menyenangkan. Tetapi, apabila saluran energi tadi tidak terhambat, maka tidak menimbulkan ketegangan pada otot atau syaraf, sebaliknya itu menjadi tenaga aktif yang sangat besar manfaatnya.
Purnomo Wahyudi
Load comments